Dribel Neymar yang Menyingkirkan Atalanta

PSG berhasil membalikkan keadaan di menit-menit akhir pertandingan usai tertinggal dari Atalanta. Kemenangan 2-1 Thomas Tuchel memastikan PSG mendapat tempat di semifinal Liga Champions, setelah lolos ke semifinal final pada musim 1994/95. Menurut bandarqq kekalahan Atalanta membawa kembali empat pertandingan paling bergengsi di Eropa tanpa wakil Italia.

Tuchel memanfaatkan hasil 4-3-3 tanpa diperkuat beberapa pemain kunci seperti Marco Verratti yang cedera dan Angel Di Maria yang terkena sekumpulan kartu. Kylian Mbappe juga sedang tidak fit, sehingga penyerang asal Prancis itu memulai pertandingan dari bangku cadangan. Pablo Sarabia mengisi slot Mbappe dan Ander Herrera dipilih untuk menggantikan Verratti.

Gian Piero Gasperini terus menggunakan 3-4-1-2 dengan Papu Gomez sebagai nomor 10. Atalanta tidak diperkuat pencetak gol terbanyak mereka, Josip Ilicic, yang mengakhiri musim lebih awal karena masalah pribadi. Ilicic digantikan oleh Mario Pasalic.

PSG bertahan dari blok tengah, mengandalkan intrusi dari tiga gelandang mereka, yakni Herrera, Marquinhos dan Idrissa Gana Gueye. Juan Bernat merupakan pemain yang sering diekspos oleh Atalanta. Bernat tak menyangka bek Hans Hateboer bisa overlap di menit ke-11, untungnya Navas masih waspada untuk memblok tandukan Hateboer. Bernat juga mengabaikan kehadiran Pasalic di gawang Chelsea. Ia lebih fokus pada Rafael Toloi, bek tengah yang membantu serangan di area penalti PSG.

Atalanta langsung membuka area bermain saat fase pergantian pemain. Dua bek, Robin Gosens dan Hateboer, memainkan peran kunci dalam perkembangan serangan Atalanta di sayap. Sementara itu, Gomez memainkan peran penting dalam memberikan keunggulan numerik bagi kedua belah pihak. Gomez membantu pemain Atalanta dari kedua sisi untuk membentuk berlian. Ini sangat berguna untuk memajukan serangan.

Di lini pertahanan, Atalanta menekan sistem man-to-man. Duvan Zapata, Pasalic dan Gomez akan membentuk segitiga di depan pers untuk menutup opsi kekuatan dua bek tengah dan gelandang. Cara ini menyebabkan Keylor Navas lebih sering meredakan sakit perut.

Gosens dan Hateboer bertahan dari bek PSG Juan Bernat dan Thilo Kehrer. Dua gelandang Atalanta akan menutup umpan kepada Gueye dan Herrera. Di belakangnya, kehadiran tiga bek tengah mengisolasi Mauro Icardi di area penalti Atalanta.

Solusi PSG untuk pertahanan Atalanta adalah kecenderungan Neymar untuk menurunkan bola ke dasar. Ketangkasan Neymar membuat pertahanan sentral Atalanta sulit melindungi penyerang berusia 28 tahun itu.

Kemajuan PSG di babak pertama sangat bergantung pada aksi Neymar dari dataran rendah. Hal yang sama berlaku untuk proses produksi peluang. Neymar menghasilkan total empat tangkapan PSG di babak pertama. Tidak ada tiga gelandang PSG yang bersifat teknis, sehingga Neymar berperan sebagai starter serangan dan pencipta peluang.

Di babak kedua, permainan PSG berkembang setelah beberapa kali pergantian pemain. Mbappe masuk pada menit ke-60 menggantikan Sarabia. Tuchel juga memainkan Julian Draxler dan Leandro Paredes di menit ke-72, yang sangat memudahkan tugas Neymar di babak pertama.

Kehadiran Draxler dan Paredes membuat perkembangan serangan tidak hanya bergantung pada Neymar. Mantan pemain Barcelona itu tidak selalu harus turun untuk mengejar bola. Namun jika menyangkut soal itu, Neymar punya opsi umpan yang lebih baik, yakni Mbappe. Gaya man-to-man Atalanta membuat para pemainnya sering kehilangan posisi. Misalnya saat ini Toloi tertarik jauh ke lapangan karena Neymar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *